by

BERGERAK DARI PINGGIR: GERAKAN SMK MEMBANGUN SATU DESA, SATU PRODUK

Hampir satu abad Indonesia bergerak sejak kemerdekaan diproklamirkan tahun 1945, namun impian pemerataan pembangunan belum juga mencapai hasil maksimal. Desa-desa masih tertinggal bahkan hampir tidak mengalami perubahan, kecuali perubahan luas lahan yang tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraannya. Desa-desa seolah tenggelam dalam kenangan masa lalu dimana peranannya masih sangat sentral dalam perjuangan merebut kemerdekaan bahkan hingga awal Orde Baru yang mencangkan Program Pembangunan terstruktur dan terencana dengan pola Lima Tahunan.

Pola Pembangunan yang kemudian populer dengan REPELITA dan PELITA tersebut selanjutnya menjadi panduan penting pelaksanaan seluruh program pembangunan yang dilakukan secara nasional. Program ini sungguh mencapai hasil luar biasa hingga berakhirnya masa Orde Baru di penghujung abad XX. Secara sosial-politik REPELITA maupun PELITA menjadi menonjol peranannya dalam mengejar ketertinggalan setelah berabad-abad Indonesia berada dalam bayangan mimpi buruk penjajahan.

Secara historis, pendidikan keterampilan di Indonesia telah diperkenalkan sejak masa kolonial (tahun 1900) yang bertujuan mendidik pemuda-pemuda pedesaan dalam bidang pertukangan. Program tersebut selanjutnya dikembangkan dan dikemas dalam program pembelajaran terstruktur hingga masa awal kemerdekaan. Namun demikian, pertembuhan sekolah-sekolah keterampilan/kejuruan masih terbatas di perkotaan sehingga untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan keterampilan atau kejuruan bagi pemuda-pemuda pedesaan merupakan hal yang sangat langka tapi sangat dibutuhkan.

Dalam upaya pemerataan pembangunan di segala sektor, tidak dapat dipungkiri peran penting Orde Baru dalam membangun wilayah pinggiran merupakan hal yang patut dicatat. Pembangunan Pedesaan misalnya, dalam konteks pembangunan Indonesia bukanlah hal yang baru. Fokus Pembangunan ke wilayah pedesaan bahkan telah menjadi perioritas penting hingga dicanangkannya INPRES tentang pentingnya pembangunan Pedesaan sejak PELITA I hingga PELITA VI khususnya dalam rangka mendorong pembangunan sektor pertanian. Oleh karena itu, Bidang pertanian di masa lalu menjadi sangat krusial dikembangkan dan didukung. Kesadaran pentingnya sektor tersebut kemudian melahirkan satuan pendidikan yang bertugas membina dan mengembangkan para ahli yang mengawal perkembangan sektor pertanian seperti lahirnya SPP (Sekolah Pertanian Pertama) dan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Dari program ini selanjutnya melahirkan para penyuluh pertanian yang pada masa Orde Baru berkiprah secara sukarela dalam wadah TKS BUTSI ( Tenaga Kerja Sukarela Badan Usaha Tani Seluruh Indonesia).

Demikian juga dengan bidang-bidang lain, seperti pertukangan, permesinan, dan perkantoran. Bidang-bidang ini oleh pemerintah dianggap penting dikembangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga terampil yang siap pakai dalam kerangka pembangunan nasional. Untuk mendukung hal tersebut pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kementerian-kementerian lain mengembangkan Sekolah Teknik (ST), Sekolah Teknik Menengah (STM),dan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) yang pada masa Orde Baru di buka hanya di wilayah Perkotaan.

Seiring dengan perkembangan pemikiran masyarakat, paradigma pembangunan pendidikan pun mengalami pergeseran. ST, STM, dan SMEA yang semula berkembang di perkotaan mengalami perubahan sangat signifikan. Satuan pendidikan kejuruan tersebut yang tadinya bersifat monolistik bergeser ke wilayah terbuka yang memungkinkan berkembangnya kompetensi-kompetensi lain sesuai dengan kebutuhan. Leburnya Sekolah teknik dan sekolah keterampilan ke dalam wadah yang sekarang dikenal dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sejak masa Reformasi berdampak luas pada ekspansi perkembangannya hingga ke daerah pedesaan. Lebih jauh pemerintah bahkan mencangakan pertumbuhan SMK hingga mencapai proporsi 70/30, yang berarti medorong pertumbuhan Sekolah menengah Kejuruan lebih besar dibandingkan dengan Sekolah Menengah umum dengan menempatkan satu SMK minimal di satu kecamatan. Tujuannya, sudah pasti akan menjadikan SMK sebagai basis pembinaan tenaga kerja muda terampil dan profesional.

Pertanyaannya dalam konteks pembangunan di era milenial saat ini, seberapa pentingkah perdesaan dimasukkan dalam sekala perioritas pembangunan bila dikaitkan dengan petumbuhan SMK? Sebuah pertanyaan yang secara politis dapat menggeser sekala perioritas politik pembangunan. Sebuah Pertanyaan yang juga dapat melahirkan jawaban-jawaban genius untuk mendorong peran penting Sekolah Kejuruan di pedesaan dalam menentukan ke arah mana proses pembangunan berpihak.

Secara sosio-politis, pembangunan Pedesaan saat ini bahkan telah menjadi pilihan kebijakan pemerintah guna mendorong percepatan di berbagai sektor tidak terkecuali sektor pendidikan. Di bidang pendidikan bahkan pemerintah telah berhasil melakukan pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terjauh, terdepan dan terbelakang (3T) yang mencakup seluruh jenjang pendidikan.

Di antara program pendidikan yang paling menonjol perkembangannya adalah Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK). Pertumbuhan sporadis SMK (saat ini berjumlah lebih dari 14.000) yang sebagian besarnya berada di wilayah rural dan urban atau pedesaan merupakan hal yang patut diperhitungkan peranannya. Oleh karena itu, kebijakan mendorong peran SMK lebih besar dalam menyiapkan tenaga kerja terampil level menengah telah menempatkan satuan pendidikan tersebut pada pertumbuhan yang sangat dinamis. Demikian juga dengan bidang dan kompetensi yang dikembangkan menjadi lebih variatif dan kaya sesuai dengan permintaan dunia usaha dan dunia industri.

Jumlah besar SMK yang tumbuh di daerah rural dan urban secara signifikan mendorong berkembangnya aglomerasi pertumbuhan ekonomi sebagai imbas langsung dari arus urbanisasi di wilayah pinggiran. Lebih jauh, perkembangan pesat pendidikan terutama pendidikan kejuruan di wilayah-wilayah tersebut sekaligus telah mendorong berkembangnya potensi ekonomi kecil, seperti pedagang kaki lima, usaha penitipan kendaraan bermotor, maupun usaha kecil lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berkembangnya pendidikan khususnya pendidikan kejuruan berimbas besar pada pergeseran dan perkembangan pemikiran masyarakat pedesaan yang pada gilirannya berpengaruh pada cara padang masyarakat terhadap pentingnya membekali anak-anak muda pedesaan dengan keterampilan praktis sehingga siap menghadapi persaingan di pasar kerja yang lebih kompetitif.

Seiring dengan perkembangan pendidikan kejuruan di wilayah rural maupun urban, berkembang pula berbagai industri yang kemudian menjadikan SMK sebagai sumber tenaga kerja yang menopang kegiatan produksinya. Tingginya kebutuhan tenaga kerja disektor industri pada gilirannya mendorong sekolah-sekolah kejuruan yang tumbuh dipedesaan melakukan berbagai bentuk kerjasama yang bersifat mutualisme dengan dunia industri dan dunia usaha lainnya. Inilah yang menjadi tonggak penting pergeseran dinamis kerjasama antara satuan pendidikan SMK dengan industri yang semula untuk mendapat tenaga kerja terampil murah menjadi terlibat langsung memberikan pelatihan dan menyiapkan sumberdaya terampil profesional dalam bidangnya masing-masing.

Gerakan SMK ‘mbangun Desa merupakan upaya mendorong percepatan pertumbuhan sumberdaya terampil yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan pekerjaan. Kesadaran bahwa sebagian besar SMK tumbuh di pedesaan, siswanya berasal dari pedesaan dan tenaga pengajarnya pun sebagian besar berasal dari wilayah aglomerasi yang sama, maka tidak berlebihan pula untuk mengatakan pembangunan yang ideal pun harus berangkat dari wilayah pinggiran yang bernama pedesaan. Oleh karena itu, INPRES nomor 9 tahun 2019 tentang Revitalisasi SMK yang memperkuat INPRES Desa nomor 6 tahun 1984, disusul dengan INPRES tentang Desa Tertinggal tahun 1993 telah disempurnakan oleh Presiden Joko Widodo dengan INPRES yang terkait dengan pentingnya memperhatikan daerah pedesaan dan daerah tertinggal dan dipertajam dalam PERPRES nomor 12 tahun 2015 tentang Kementerian Desa menjadi dasar penting pelaksanaan program SMK di wilayah-wilayah marginal.

Semangat pembangunan SMK di pedesaan makin mendapatkan kesempatan untuk menjadi mercusuar sejak dikeluarkan INPRES nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Pendidikan Kejuruan. Hal tersebut lebih jauh telah mendorong pertumbuhan jumlah SMK dan terjadinya peningkatan kualitas output secara signifikan. Demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi yang paling kurang menempatkan pedesaan tidak lagi pada wilayah terbelakang, tetapi bergeser menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi baru paling kurang merupakan imbas langsung dari berkembangnya pendidikan kejuruan di pedesaan.

Kini, lulusan SMK dipedesaan tidak lagi menjadi kelompok pencari kerja, tetapi telah bergeser menjadi kelompok pencipta lapangan pekerjaan. Untuk itu, sudah saatnya pula pemerintah melalui berbagai instansi terkait melakukan berbagai upaya untuk mendorong percepatan pembangunan dari wilayah pedesaan. Mengapa? Karena sejatinya perkembangan dan pertumbuhan nasional bersumber pada suksesnya pemerintah melakukan percepatan pembangunan di wilayah pedesaan. Kemajuan suatu negara akan sangat bergantung pada suksesnya menangani dan membawa wilayah pinggiran ke wilayah pertumbuhan paling penting. Pedesaan menjadi tonggak pertumbuhan yang menyokong perkembangan di wilayah perkotaan. Maka tidak berlebihan pula untuk mencanangkan perkembangan SMK di pedesaan dengan idealisme tinggi SMK kembali ke desa, membangun satu desa dengan satu ikon produk yang mengejawantahkan potensi yang ada di masing-masih wilayah. SATU DESA, SATU PRODUK merupakan selogan penting untuk membangkitkan gairah, menanamkam idealisme, membangun karakter menuju Indonesia Adil Makmur dan lebih sejahtera di masa depan.

SMK BISA…SMK HEBAT…SMK BERPRODUKSI…MEMBANGUN INDONESIA MAJU…..***

*) Penulis adalah Dr. R. Abdul Haris, M.Si, Koordinator bidang Tata Kelola Direktorat SMK, Kemdikbud

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi kanalwan.co.id

*) kanalwan.co.id terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@kanalwan.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed