by

Industri Collaps? SMK SOLUSINYA

Mungkin ini sebuah Tantangan, mungkin juga sebuah berkah atau mungkin juga bisa sebuah jawaban terlalu optimis. Bagaimana mungkin sebuah satuan pendidikan yang selama beberapa dekade berada pada wilayah marginal tiba-tiba mengambil peran sentral dalam menghadapi sebuah krisis besar yang memaksa duinia usaha dan Industri berjalan tanpa arah, tertatih-tatih kehabisan nafas. Betapa tidak, Industri yang semula dengan gagah dengan produksi melimpah tiba-tiba mengalami “sesak nafas” karena biaya operasional tidak mampu seimbang dengan biaya produksinya. Secara logika ekonomi kita pasti langsung teringat pada teori-teori equiliberium yang menjejali otak kita saat masih di bangku sekolah. Lalu kenapa itu tidak berjalan sesuai logika?

Tiap Perkembangan sudah pasti tidak harus sama logikanya. Masing-masing perubahan membawa karakternya dengan masalah yang diciptakannya sendiri. Untuk itu, maka cara dan strategi penanganan maslahanya pun harus searah dengan pola perubahan yang muncul. Seperti air yang melanglir, ikuti arusnya, pelajari polanya lalu ambil manfaat dimana muaranya berakhir. Lalu apa hubungnnya dengan SMK?

Dalam sebuah perdebatan ideo-ekonomik, persoalan pengambilalihan peran produksi oleh SMK (atau sekolah menengan kejuruan) ketika dunia industri Collaps menjadi perdebatan menarik. Tentu hal ini berlangsung bukan tanpa alasan. Potensi besar Sumber Daya yang ada di lembaga Pendidikan Menengah Kejuruan pastilah memiliki sisi menarik yang menguntungkan. Pertama, dari sisi peralatan, SMK pasti sudah terbiasa dalam mengoperasikan alat produksi meskipun masih dalam sekala kecil karena memang fungsuinya untuk pengenalan dalam proses pembelajaran. Keakraban siswa SMK dengan berbagai peralatan Praktek mulai dari alat manual sampai mesin produksi mereka kenal secara baik. Tuntutan untuk bisa pengoperasikan berbagai alat pembelajaran praktek sesuai kompetensinya masing-masing merupakan proses yang wajib meraka lakukan. Belum lagi semangat inovasi besar yang rata-rata dimiliki oleh sumberdaya muda peserta didik SMK menjadi bagian lain yang tidak kalah pentingnya. Kedua, Persebaran jumlah SMk yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dari sisi produksi akan sangat menarik karena tiap jenis produksi akan mewarnai tiap wilayah di mana SMK berada dan berkembang. Diversifikasi keahlian atau kompetensi yang berkembang di SMK akan menjadi pilihan baik untuk industri menempatkan jesis produksi yang dapat dkembangkan di setiap SMk terpilih. Hal ini pasti juga akan menjadi jalan keluar untuk mengatasi keterbatasan lahan prodksi, dan sumberdaya mahal yang selalu harus ditanggung oleh industri. Untuk itu, pemindahan potensi produksi ke SMK dapat memberikan keuntungan ganda kepada kedua belah pihak. Di satu sisi SMK memperoleh keuntungan mendapatkan peralatan peraktek dan supervisi dari para tenaga ahli yang profesional yang benar-benar memahami industri, dan Industri sendiri akan dapat terus melakukan proses produksi meskipun dalam sekala yang terbatas tanpa memikirkan biaya maintanence yang cukup besar.

Runtuhnya dominasi industri dalam proses produksi massal sebagai imbas langsung dari pandemi Covid19 secara nasional, mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan sporadis yang tidak terduga sebelumnya. Penurunan Volume Produksi, Penurunan daya beli Masyarakat, munculnya destabilitas persediaan material produksi merupakan hal-hal yang langsung meleburkan arogansi kekuasaan rantai produksi di semua sektor industri. Dunia usaha dan dunia industri hampir tak berdaya, karena perubahan kurva produksi dan kurva penjualan yang tidak sebanding dengan modal berjalan. Hal ini lebih jauh menyebabkan rendahnya imunitas dunia usaha dan dunia industri dalam menghadapi badai “pandemi keruntuhan”. Ketidakberdayaan industri dalam memenuhi kebutuhan operasional, misalnya, menimbulkan efek domino yang lebih mengerikan, mulai dari pengurangan produksi hingga pengurangan sumberdaya tenaga kerja secara besar-besaran. Belum lagi munculnya berbagai kepanikan sosial-ekonomi yang tidak menutup kemungkinan berkembangnya rush sebagai bentuk rendahnya kepercayaan masa terhadap pemerintah. Merumuskan langkah strategis untuk memompa kembali pertumbuhan ekonomi nampaknya merupakan hal yang perlu dirumuskan secara serius.

Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) mengunjungi pabrik mobil Esemka di Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

Oleh karena itu, belajar dari masa lalu untuk menuju sukses yang lebih besar bukanlah sesuatu yang salah. Melihat kembali jejak masa lalu pembangunan nasional dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam mendorong suksesnya pembangunan di masa depan pada gilirannya merupakan aspek yang tidak dapat dinafikkan perannya. Hal ini mengingat bahwa setiap proses perencanaan pembangunan dalam sekala makro pastilah memiliki kesinambungan yang tidak dapat diletakkan pada ruang-ruang terpisah. Tidak dapat dipungkiri, sukses kita capai hari ini merupakan buah sukses atau kegagalan masa lalu yang secara kontinu ingin kita tingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya.

Lalu apa hubungannya keruntuhan Dominasi rezim DUDI dengan SMK? Apalagi sebagian besar Lembaga Pendidikan kejuruan tersebut tersebar di wilayah pedesaan yang dianggap sangat marginal? Kesalahan terbesar negara adalah mengabaikan faktor sukses terkecil yang justru dapat berperan besar dalam mendorong pertumbuhan besar ekonomi dari wilayah yang tidak terduga.

Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, maka SMK-SMK yang tersebar di berbagai wilayah pedesaan merupakan stiker-striker handal yang dapat mengambil peran sebagai ujung tobak dalam mendorong proses produksi tetap berjalan. Oleh karena itu, untuk dapat menghasilkan lembaga-lembaga kejuruan yang mumpuni tersebut, melakukan reformasi sistem pendidikan kejuruan melalui program revitalisasi pendidikan kejuruan menjadi sebuah keniscayaan. Mengapa?

Pertama, Satuan Pendidikan Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan yang memang ditugaskan untuk menghasilkan sumberdaya manusia siap pakai, handal dan kompeten dalam bidangnya masing-masing. Sebagai lembaga pencetak SDM, maka SMK sekaligus dapat berperan sebagai lembaga pelatihan teknis terapan guna memenuhi kebutuhan sumberdaya pembangunan. Dalam konteks lebih luas, kenyataannya SMK tidak hanya menghasilkan pekerja siap pakai tetapi juga menghasilkan lulusan yang siap menciptakan lapangan kerja. Untuk itu, mendukung pengembangan sarana dan prasarana pendidikan kejuruan yang memadai sesuai kebutuhan menjadi hal yang harus dilakukan. Kedua, Sumber-sumberdaya potensial untuk kepentingan pembangunan berada di wilayah pedesaan di mana SMK-SMK tersebut dikembangkan. Dengan demikian, penguatan peran SMK dalam proses pembangunan khususnya di daerah pedesaan mengandung nilai strategis sehingga secara ekonomi dapat mendorong proses produksi berjalan tanpa memikirkan biaya yang terlampau besar. SMK dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil, handal dan siap pakai sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Ketiga, konpetensi-kompetensi yang dikembangkan pada seluruh satuan pendidikan kejuruan, merupakan kompetensi atau bidang yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan DUDI. Oleh karena itu, sangat beralasan apabila dalam proses pembelajarannya DUDI berkewajiban memberikan kontribusi yang cukup dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran di SMK. Di samping itu, sebagian besar SMK yang ada memiliki lahan yang cukup sehingga dapat dikembangkan menjadi sekolah-sekolah yang berbasis pada industri maupun ekonomi produktif.

Runtuhnya peran idustri dalam produksi barang dan jasa, secara strategis dapat dipindahkan perannya ke fungsi pembelajaran di satuan pendidikan SMK. Industri-industri menenang ke bahwah khususnya yang mulai collaps dapat menjadikan SMK sebagai basis baru untuk produksi. Dengan demikian, colaborasi industri dan SMK dalam proses produksi harus dibangun sebagai basis baru yang kuat. Jumlah besar peralatan dan mesin produksi yang ada di industri-industri yang collaps, dapat memidahkan proses produksinya ke SMK yang ada sebagai bagian proses pembelajaran industri secara lengkap sesuai dengan SOP yang ada. Pemindahan proses produksi sebagai bagian proses pembelajaran tentu saja harus sesuai dengan standar operasional dan ketentuan yang berlaku. Imbal balik proses colaborasi produksi, baik berupa barang maupun jasa kemudian dipasarkan melalui industri induk. Platform kerjasama tersebut harus dibangun dalam kerangka yang saling menguntungkan. Secara akademis, SMK dapat memenuhi kebutuhan peralatan pembelajaran memadai, dan pengenalan proses produksi secara lengkap sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi, dan Industri dapat mengalihkan proses produksi dan biaya mantainence yang lebih rendah dengan hasil maksismal. Pengalihan peran produksi dari Industri ke SMK dapat mengubah dua hal sekaligus. Pengalihan fungsi produksi ke proses pembelajaran di SMK mengubah peran Industri menjadi retailer barang dan jasa yang dihasilkan dan menjadikan SMK-SMK terkait menjadi sekolah mandiri yang kuat berbasis Industri sekaligus. Dengan demikian, jumlah besar ndustri kecil dan menengah yang mengalami kesulitan produksi (collaps) karena berbagai alasan, dapat membangun sinergi yang kuat dengan satuan pendidikan SMK dengan kompetensi yang sesuai merupakan langkah strategis untuk dapat survive dalam kondisi yang paling riskan sekalipun. Inilah alasan penting mengapa SMK harus mendapat dukungan kuat baik secara politik maupun secara ekonomi. REVITALISASI SMK dengan demikian, merupakan sebuah langkah kebijakan strategis yang harus dilakukan untuk selanjutnya menempatkannya menjadi Center of Excellence, sebagai lembaga yang unggul dalam bidangnya masing-masing. Sinergi antara SMK dan DUDI pada gilirannya menjadi sebuah tututan yang harus dilakukan dalam era perubahan yang paling ektrim (yang sekarang lebih dikenal sebagai disruption era). ****

Dari Peran Marginal memegang kendali Produksi….

Salam SMK Bisa….SMK Hebat….SMK Bisa Hebat Berkontribusi Nyata dalam pembangnunan

*) Penulis adalah Dr. R. Abdul Haris, M.Si, Koordinator bidang Tata Kelola Direktorat SMK, Kemdikbud

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonesiasatu.org

*) indonesiasatu.org terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: pendidikan@indonesiasatu.org

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed